Senin, 2009 Mei 04

Coaching dan Counselling bagai sabun dan pewangi bagi team



Dua (2) tools ini sama-sama penting dalam mendukung kepemimpinan. Pemimpin tanpa coaching dan counselling terasa hambar dan kering, miskin dan tak beraroma. Coaching dianggap sebagai sabun pembersih dan counselling dianggap sebagai pewanginya.

Ada satu perusahaan yang memakainya bersama-sama dalam satu kegiatan (disingkat C and C or C&C). Perusahaan lainnya memakai coaching sebagai bagian penting dari KPI dan menganggapnya lebih berpengaruh terhadap perbaikan kinerja dari pada training. Training dikurangi, coaching ditambah.

Perusahaan lainnya, mewajibkan setiap pemimpin melakukan coaching on regular basis (1x per anggota team per bulan). Dan ukuran kenaikan gajinya (salary adjustment) didasarakan pada seberapa berhasil pemimpin tsb. menjalankan coaching secara produktif dan motivating. Dua (2) ukuran sering dipakai yaitu: frekuensi (quantity) dan kinerja (quality) yang sering digunakan dalam mengukur keberhasilan proses coaching.

Banyak manager dan GM yang dianggap sukses setelah mereka sukses melakukan coaching dan counselling secara teratur kepada teamnya. Teamnya menjadi "ter-upgrade" naik kelas, teamnya menemukan "hidden potential-nya" , teamnya merasa diutamakan dan dianggap penting, teamnya merasa mendapatkan "regular" feedback, teamnya cepat "berkembang" menjadi pemimpin baru (successfull succession), dan yang lebih penting organisasi cepat menemukan pemimpin-pemimpin baru (young tiger in the jungle).

Apa bedanya coaching dan counselling dan kapan menggunakannya?

Counselling selalu dimulai oleh (berangkat dari) masalah ("bau badan"), sedangkan coaching tidak. Counselling dimulai dari masalah pribadi yang mempengaruhi pekerjaan, coaching tidak.

Sehingga counselling tepat ditangani dengan skill sebagai counsellor. Solusi atas masalah biasanya ditemukan berdua antara client (team yang bermasalah) dengan pemimpin yang menempatakan dirinya sebagai counsellor. Counsellor harus lebih banyak mendengar dari pada berbicara (listen more, talk less) dan "client centered". Frekuensi pertemuan tidak dapat diatur di depan sebelumnya, amat bergantung kepada timbulnya masalah yang tidak dapat diduga sebelumnya. Misalnya: masalah kedisiplinan, masalah tanggung jawab (tledor), masalah keluarga dst. Counselling bisa juga dipakai untuk prevention masalah.

Ujung dari counselling adalah selesainya masalah pribadi (attitude & character) dan tidak lagi menyebabkan turunnya kinerja. Dalam beberapa kasus, justru meningkatkan kinerja anggota team ybs. karena ia telah berhasil menyelesaikan masalah pribadinya (menutup bau tak sedap lalu menambah PD).

Sebaliknya coaching berangkat dari adanya potensi di dalam diri setiap anggota team (lebih positif kesannya). Coachee (anggota team yang memiliki potensi diri) harus lebih aktif menemukan dan menggali potensi dirinya sendiri, setelah di-inspirasi atau di-direct dan diberi feed-back oleh coach (pemimpinnya). Coachee-lah yang paling "tahu" dan "mengenal" what is inside dan what is desired. Coachee-lah yang lebih mengenal dirinya sendiri dari pada pemimpinnya (strength dan weaknessnya) .

Sehingga, solusi pengembangan dirinya lebih banyak ditemukan sendiri oleh coachee dengan bantuan, kesabaran dan ketekunan seorang coach. Komitmen coachee-lah yang menyelamatkan dirinya dari kemandekan karirnya (stagnansi pertumbuhan) . Coach sebagai katalisator dan fasilitator.

Coaching sama dengan counsellor harus lebih banyak mendengar dari pada berbicara (listen more, talk less) dan "coachee centered". Ujung dari coaching adalah perubahan dan perkembangan kemampuan (capacity) anggota team. Sehingga ukuran coaching adalah selalu result (hasil/ kinerja), bukan sekedar kesepakatan "action plan". Itulah mengapa hanya coaching yang sering dikaitkan dengan performance indicator (KPI).

Sering keduanya dilakukan bersamaan, tak bisa dipisah-pisahkan, tak semudah memotong apel untuk membedakannya. It is not clear-cut. Mengapa demikian? Karena biasanya, pemimpin baru mau menyediakan waktu dan mengajak berbicara anggota teamnya setelah ada "masalah". Jika tak ada masalah, pemimpin cenderung diam, tak peduli dan asyik sendiri dengan dunianya. Masalah yang tadinya kecil, menjadi terkubur dan meledak setelah cukup besar. Jadilah pemimpin menjadi pemadam kebakaran (counsellor bagi pesakitan). Pada saat itulah, pemimpin lalu melakukan coaching. Sehingga kenapa ada perusahaan tertentu yang menggunakan 2 senjata coaching dan counselling secara bersamaan (karena problem-based coaching). Seperti kebiasaan banyak orang, lebih senang memakai pewangi tubuh, padahal yang dibutuhkan adalah mandi yang bersih.

Dengan "regular" coaching dan counselling, team kita menjadi lebih bersih dan lebih wangi.

Senin, 2009 Maret 16

Leader As Coach (LAC) Workshop

Selasa, 2009 Januari 27

Leadership in Crisis & Changing Times





Leadership in Crisis & Changing Times

A Leadership Development Workshop
In-house, focused two-day workshop


3 Competitive Advantage
1. Workshop ini sangat “customized” sesuai kebutuhan bisnis saat ini, khususnya untuk membantu pemimpin (Leader) mengatasi situasi krisis & perubahan (sudden change) yang tiba-tiba melanda perusahaan, sehingga dapat mempertahankan spirit of survival, spirit of turn-around dan spirit of winning (Crisis & Change).
2. Workshop berbasis management & life experience sehingga praktis dan mencerahkan.
3. Workshop berbasis "corporate values" dari klien dan universal values dari kepemimpinan, dalam praktek global, sehingga lebih mudah diterapkan di tempat kerja.


Benefit
1. 9 powerful sessions, full of inspiration & self discovery.
2. Great method & technique (experiencing, self discovery, accelerative).
3. Mempersiapkan pemimpin (leader) lebih siap menghadapi situasi krisis (“passion”) di waktu ini dan di masa mendatang dengan memberi penyegaran tentang “warrior dan patriotic” leadership.
4. Membantu setiap pemimpin (leader) mampu memperbaiki dan merubah situasi dan kondisi krisis perusahaan menjadi kondisi survival yang terkendali dengan baik dan terhindar dari situasi ”chaos” yang tidak menguntungkan siapapun (operation dan kinerja tetap terjaga).
5. Membantu setiap pemimpin (leader) menginspirasikan perubahan dalam hal cara pandang, cara berfikir, cara menganalisa masalah, cara mengambil keputusan dan cara bersikap terhadap situasi krisis (change leader).
6. Mengamankan situasi dan kondisi perusahaan saat ini dan menjaganya tetap inovatif, proaktif dan berkinerja tinggi.


Peserta:
Key decision maker (Manager level up)

Durasi dan Waktu:
Waktu workshop didesain selama 2 hari penuh, dari jam 8 pagi s/d jam 10 malam setiap hari. Workshop direncanakan hari jumat dan sabtu.

Registration
Master Training & Consultant’s
Jl Pintu Air 51 A, Jakata Pusat
Shaheena / Ami Tel. 021. 381.3664, Mob. 021. 715.87887
Email: shena_judge@hotmail.com,
shaheena@mastertrainings.com

High Leap Consulting
Tel 021-553.5723
SMS: 0816-1689044
Email: info@highleap.net
www.highleap.net

Mature Leadership Center (Mature Way)
www.mature-leadership.com
Tel. 021. 715.87887
SMS: 0813.8286.3949
Email: harry.uncommon@mature-leadership.com

Selasa, 2009 Januari 13

Seri Pencerahan Karyawan Menghadapi Krisis



SERI PENCERAHAN KARYAWAN & MANAJEMEN MENGHADAPI SITUASI KRISIS
Untuk Seluruh Staff & Manajemen Perusahaan Anda

Program Khusus: In-house @ 3 jam reguler atau fill-in,

Tujuan:
1. Menyadari, krisis adalah berkat dan hadiah, bukan sekedar challenge (soul & wisdom of crisis)
2. Membangun spirit of managing change, spirit of survival,
spirit of turn-around, spirit of winning yang mempertahankan kinerja & motivasi tetap tinggi.

Metode: Dialog, diskusi (bukan sekedar ceramah motivasi), tatap muka,
berkesinambungan, dipandu oleh Harry "uncommon" pembicara
Motivation Leadership.


Hubungi:
Mature Leadership Center
Pesona Khayangan DS no 4 Depok 16411
Tel. 021. 715.87887
Mob. 0813.8286.3949
www.mature-leadership.com

Jumat, 2008 November 21

Advancing Mature Leader Within You






“Advancing Mature Leader Within You”
(Road to the top)

A Leadership Advancement Workshop
For Manager & high potential Leader

A Focused Two-day workshop,

4 Competitive Advantage
1. Workshop berbasis management & life experience sehingga praktis dan mencerahkan.
2. Workshop berbasis “follow-up mentoring” dalam bentuk LAP (Leadership Action Program) yang melibatkan atasan langsung sehingga workshop lebih berdampak bagi pertumbuhan & perkembangan pemimpin setelah program selesai untuk pencapaian KPI (key performance indicator).
3. Workshop berbasis "corporate values" dari klien sehingga lebih mudah diterapkan di tempat kerja.
4. Free-on-line-mentoring (pendampingan) selama 3 bulan setelah training (email, telephone call, sms) untuk setiap peserta, dilayani langsung oleh Bapak Harry “uncommon” Purnama.

Benefit
1. To grow & learn to a higher level of your leadership, becoming a mature leader (Level 5 Leadership)
2. Leadership Revolution (leader capital & human capital)
3. 10 powerful sessions full of inspiration & self discovery
4. Great method & technique (experiencing, self discovery, accelerative)
5. Help Identify “leadership potential” within your team (leader develops leader)
6. Support your life goal to be wealthy & healthy in long-life living.
7. Menaikkan level kepemimpinan Anda ke level “mature” (berkelas lebih tinggi) sehingga karir Anda lebih cepat melesat dan lebih sukses (road to the top).
8. Menjadikan Anda pemimpin yang lebih tenang, lebih arif, lebih efektif.
9. Menjadikan Anda lebih bersikap positif eg. open & profesional.
10. Menjadikan Anda memiliki level intelektual yang lebih tinggi.
11. Menjadikan Anda memiliki level passion yang lebih tinggi.
12. Menjadikan Anda memiliki level kematangan spiritual yang lebih tinggi.
13. Bonus Leadership Potential Inventory (LPI, mengidentifikasi pemimpin potensial di dalam tim Anda).
14. Bonus 1 materi presentasi dalam flashdisk 1GB.
Agenda / Outline
10 Powerful Sessions dalam program 2 Hari

(Day 1)
1). 5 Levels of leadership versi John C. Maxwell & Leadership Tingkat 5 versi Jim Collins (Good to Great)
2). Mempraktekkan Teknik “Law of influence” (Leadership deficiency vs Leadership fullness).
3). Membongkar level leadership Anda (Mature Leadership Assessment / MLA, bottom-up assessment oleh tim Anda).
4). Menanamkan 3 core values dari “mature leader”.
5). Melatih metode 5 core competencies dari “mature leader” (half-leader vs full leader, do’s vs don’t’s).
Evening Program: Reading material dari copy buku Leadership John C. Maxwell & Jim Collins. Tersedia berbagai copy article Harvard Business Review

(Day 2)
6). Teknik menjadi “mature” role model (talk-less, do-more)
7). Teknik menjadi “mature” wise leader
8). Mendesign Leadership Action Program (LAP) secara pribadi (teknik A-3 mind-mapping) yang berkaitan dengan KPI individu.
9). Menemukan & mengembangkan “new leader” di tim Anda (Leadership Potential Inventory / LPI & formula 0-1-90).
10). Merancanakan & menerapkan “right coaching” dalam program mentoring dari Anda untuk tim Anda (LDL, Leader Develops Leader).


Method
Interactive & practical accelerative learning workshop: games, film, music
Inspiring & full of provocation
Maximum impacts (in bi-lingual delivery)
Tailored to your needs

Peserta
Manager up Level

Venue: Untuk in-house, klien yang menentukan (untuk publik, kami yang menentukan).

Facilitator
Harry “uncommon” Purnama
Harry ‘Uncommon’ Purnama, lahir 3 Oct 1958, di Kediri Jawa Timur, adalah facilitator Advanced Leadership. Ia pendiri Mature Leadership dan menjadi Associate Trainer di berbagai lembaga training a.l. Allman Konsultan Manajemen, PQM Productivity & Quality Management, Telequest dan Master Training. Sejak November 2008, bergabung bersama team trainer People Develop People (PDP).

Lima valuenya adalah love, sacrifice, courage, winning spirit dan freedom yang diterjemahkan dalam dunia bisnis modern menjadi: "humility" (to lead is to serve people) dan "passion". (to lead is to bring change & result). Filosofinya adalah “to lead is to serve & give”.

Ia telah memberikan training-training Leadership di berbagai industri a.l. food & drink manufacturing, distribution, oils & gas, banking, financial & leasing, media, telecommunication, construction, manpower agency, hospital and education.

Pengalaman kerjanya beragam dari local s/d multi national company, dari level staf s/d level managerial. Terakhir ia adalah alumni PT. Nestle Indonesia di divisi Marketing. Ia menyelesaikan pendidikannya di Institut Pertanian Bogor (IPB), Fakultas Pertanian, Bogor pada tahun 1984. Kemudian menyelesaikan program master “Public Health” di University of Queensland, Australia pada tahun 1994.


Shaheena Nazir,
Ia graduate from Curtin University of Technology in Western Australia, specialises in mind set and specific skilled training. Her vast involvement in various organisation has led to a comprehensive understand of the different needs and requirements.
Shaheena’s passion and expertise is to design and deliver the programme to help participant’s learn techniques, knowledge and actionable strategies to get the results that the organisation are looking for.
Her high energy and motivational style will ensure that you and your staff have a memorable learning, enabling them to tune in to the positive mindset required to apply their skills in the workplace. Contact: www.mastertrainings.com

Investment
In-house: Rp 60.000.000/2 hari/nett, maks peserta 25 orang / kelas.

Public: Rp 3.000.000,-/ day /1 person atau Rp 6.000.000 / 2 days / 1 person.
Early bird: 10% discount untuk pendaftaran sebelum waktu tertentu.
Pendaftaran > 3 peserta / company hanya membayar Rp 2.500.000,-/day/1 person atau Rp 5.000.000 / 2 days / 1 person.


Public: open for 2009


Registration

Master Training & Consultant’s
Jl Pintu Air 51 A, Jakata Pusat
Shaheena / Ami Tel. 021. 381.3664, Mob. 021. 715.87887
Email: shena_judge@hotmail.com,
shaheena@mastertrainings.com

High Leap Consulting
Tel 021-553.5723
SMS: 0816-1689044
Email: info@highleap.net
www.highleap.net

Mature Leadership Center (Mature Way)
www.mature-leadership.com
Tel. 021. 715.87887
SMS: 0813.8286.3949
Email: harry.uncommon@mature-leadership.com

Senin, 2008 September 22

Sukiman Mengetuk Pintu.. (Komunitas RUBI)








"You are richer today if you have laughed, given or forgiven.." (Anda menjadi lebih kaya hari ini kalau anda sudah tertawa, sudah memberikan sesuatu ataupun mengampuni seseorang hari ini)


Hari senin sore, 22 September 2008 pas tidak ada training, saya dan mas Anton Karya mewakili teman-teman Komunitas RUBI (Rumah Berbagi Indonesia) datang berkunjung ke sebuah rumah di RT 01/05 no 61, kel Ratu Jaya, Kec Pancoran Mas Depok. Mbak Ietje dan mbak Ellies Sutrisna, sponsor utama, tidak ada kabar khusus. Pak Rusman dan mbak Ratna (ahli wirausaha) sudah ada acara bukber. Mbak Lies Profec tidak bisa hadir.

Tidak ada sambutan khusus,ketika kami sampai di depan rumah, lalu kami diam-diam mengetuk pintu rumah dari triplek dan tembok bataco. Seorang Ibu separuh baya, kurus, ibu Sukiman (dipanggil ibu Asiah), nampak kurang sehat menemui dan mempersilahkan kami masuk. Sebelum masuk, kami ambil foto di depan rumah, begitu masuk juga 2 jepretan dokumentasi di ruang tamu yang atapnya bocor besar ketika hujan.

Pak Sukiman, pak Enjuk panggilan tetangganya, pemimpin & sekaligus pemilik rumah ini sedang bekerja sebagai tukang parkir di jalan Kartini (tidak berada di rumah). Anaknya hanya seorang saja, Adri, laki, kelas II SMK di Depok juga menemani kami berbincang-bincang. Dari hasil survey ini, kami mengetahui bahwa ketika malam, mereka tidur di lantai beralaskan kasur gulung di depan ruang makan. Kamar mandi mereka persis bersebelahan dengan dapur yang sempit, tempat untuk memasak Ibu Asiah sehari-hari. Dengan penghasilan utama pak Sukiman, pemimpin keluarga, sebagai tukang pakir (rata-rata income Rp 10.000-15.000/hari), pak Sukiman harus menanggung istri yang jantungnya ada gangguan dan biaya sekolah Adri. Kehidupan mereka jauh dari layak, sangat miskin (dibawah UMP, dibawah garis kemiskinan). Listrik minta tetangga sebelah. Air bersih minta tetangga depan rumah, yang harus diangkat pakai ember untuk keperluan sehari-hari. Tadi ketika buka puasa, adik ibu Asiah yang mengirimi makan untuk buka puasa karena tidak ada makanan. Itulah cerminan dari kehidupan rakyat kecil yang ada di sekitar kita. Kehidupan seorang pemimpin keluarga yang berwirausaha sebagai tukang parkir di Depok. Syukur, meski miskin menjerat, mata hati tidak gelap, mereka hidup sangat sederhana apa adanya, dari segala rejeki harian yang didapat dan uluran kebaikan para tetangga yang sedikit lebih mampu (mereka tidak mencuri/merampok). Nampak sekali, kehidupan yang saling tolong-menolong satu sama lain antar tetangga (solidaritas sosial nampak hidup).

Dengan situasi yang serba kekurangan, yang dirumahnya tidak punya WC, mereka harus lari ke kali jika akan BAB, pak Sukiman memberanikan diri datang ke sekretariat Komunitas RUBI awal bulan September untuk minta bantuan dana pendidikan anaknya. Pak Sukiman dengan lugunya menceritakan bagaimana ia sedang terpuruk secara ekonomi dan perlu bantuan segera. Ia berusaha "mengetuk" pintu amal dari Komunitas RUBI. Awalnya, pak Sukiman melihat spanduk RUBI di balai RW 28 Pesona Khayangan yang kami pasang. Ia beranikan diri (nekat, ia bilang) mencari alamat RUBI dan menemukan. Ia datang mengetuk 3x ke sekretariat RUBI. Tercatat ia datang ke sekretariat RUBI sebanyak 4x per hari ini (termasuk sore tadi ia juga datang lagi). Ia rajin mengetuk pintu. Mereka sudah menunggak pembayaran uang sekolah berbulan-bulan. Yang harus dibayar adalah Rp 210.000. Hari ini, kami telah menyerahkan bantuan "ikan" sebesar Rp 210.000 diterima oleh Ibu Asiah disaksikan Adri, anaknya. Dengan sangat senang dan girang, ia berulang-ulang bersyukur kepada Tuhan ketika menerima bantuan.

Agar "kail" dimiliki oleh keluarga Sukiman, kami sudah menghitung kebutuhan modal untuk "dagang makanan" di depan rumah mereka. Ibu Asiah sesungguhnya dulu sudah pernah berdagang makanan di sekolah SD inpres, tetapi modal habis untuk berobat ke puskesmas karena sakitnya. Ia kini dengan tenaga yang masih tersisa dan cukup kuat, sangat ingin berdagang lagi. Dagangan yang rencananya akan ia jajakan: nasi uduk, mie bihun goreng, bakwan, tempe goreng, mie gaul dst, yang semuanya bisa dibuatnya di dapurnya sendiri. Ia mengetuk hati kami untuk meminjamkan modal. Setelah kami hitung, ternyata modal makanan Rp 150.000, membuat meja sederhana untuk berjualan Rp 75.000, membeli plastik terpal agar jika hujan tidak tempias/basah kuyup, maka total modal diperkirakan Rp 300.000. Ibu Asiah bertekad akan mulai berdagang lagi, dan ia yakin akan laku, setelah lebaran nanti. Kamipun pamit dan menjanjikan akan membantu modal usaha ("kail") agar keluarga ini mandiri, dengan program cicilan Rp 1.000/hari dengan cara ditabung harian. Dana yang tidak seberapa ini akan dijadikan "revolving" fund (diputar) ke keluarga miskin lainnya di sekitar rumah pak Sukiman yang benar-benar perlu bantuan. Pak Sukiman akan jadi keluarga pertama penerima bantuan modal usaha dari Komunitas RUBI karena kegigihannya mengetuk pintu.

Soal MCK yang layak, saya dan mas Anton sudah menghitung secara kasar saja, dibutuhkan +/- Rp 750.000 untuk membiayai membuat WC jongkok yang layak untuk keluarga ini. Dana untuk ini akan digali dari sponsorship Komunitas RUBI (Rumah Berbagi Indonesia).

Pelajaran berharga yang dapat dipetik dari usaha keras pak Sukiman tsb. adalah, "jika kita rajin mengetuk, maka pintu akan dibukakan.."

Rabu, 2008 Juli 30

Leadership & Passion: Great inside, Great life



Suatu minggu pagi yang cerah, Harry dan istri jalan pagi sambil olah raga ke pasar kaget di jl Juanda, Depok. Sepanjang jalan Sentosa yang berbatasan dengan perumahan Pesona Khayangan, sudah penuh sesak dengan berbagai macam penjaja dagangan yang menarik. Ada penjual nasi gudeg Jawa pakai Suzuki Karimun silver, penjual macam-macam es, penjual mie ayam, ketoprak Jakarta, penjual sepatu, pakaian, ada penjual tanaman anggrek pakai Avanza, ada penjual susu murah pakai mobil Kijang, ada penjual ikan, balon, es krim, penjaul baju batik pakai APV, HP dan voucher di gelar di tanah, ada kelinci, burung, sampai jual elektronik. Semua serba ada, bagai pasar pindah. Pengunjung ramai penuh sesak, jalanan dibuat macet. Menggoda! Banyak pengunjung yang memakai kostum olah raga pagi. Niatnya semuanya sebenarnya ingin olah raga pagi sambil cuci mata. Istri Harry jalan melambat, matanya melirik ke satu dagangan demi dagangan, tergoda untuk berhenti dan beli. Benar saja dia sudah berhenti di penjual nasi kebuli dan beli sebungkus. Tak lama lagi dia stop di penjual baju dan beli baju. Di tempat ikan hias, ia beli 3 ekor ikan kecil. Di tempat es kacang hijau, diapun minum es kacang hijau. Sangat kelihatan, matanya cerah dan hatinya senang. Semua yang dilihat, pengennya mau dibeli dan diborong. Itulah perilaku belanja ala wanita. Dan itu sama saja, hampir di semua wanita di dunia. Sukanya satu, ”shopping till die”. Selagi berjalan, Harry bertanya pada sang istri: ”Ma, kenapa sih suka belanja begitu, bisa gak dikurangi.. boros..!?” Jawab sang istri: ”Lho, gimana sih, kalo aku boleh pilih antara jaga anak dan belanja, ya lebih suka belanja. Kalo aku boleh pilih antara angka 10 yang sempurna dan angka 9 hoki, aku pilih yang 9, hoki, banyak rejeki...hmmm..” Itulah hidup manusia masa kini. Semua hal diukur dengan uang. Semua orang ingin memuaskan mata. Ada teman juga yang sedang cari menantu dan kriteria nomor satunya, harus dari keluarga kaya. Mereka tidak mau lagi miskin, sudah bosan miskin. Hidup adalah uang (”life is money, no money no life”). Pepatah berikut ini juga masih sering terdengar saat sang suami baru saja di PHK atau dirumahkan dengan berbagai alasan, “Ada uang abang sayang, tak ada uang abang ditendang, banyak utang, abang melayang..” Hampir merata bagi kita semua, yang namanya hidup itu harus punya uang. Semua orang takut miskin. Ada nasehat bijak dari kitab suci, “Orang kaya sulit masuk sorga. Lebih sulit dari seekor onta masuk lubang jarum dari pada orang kaya masuk sorga.” Dari nasehat itu, tak dilarang jadi orang kaya, tapi kalau sudah kaya biasanya lupa Tuhan. Itu masalahnya! ”Dimana hartamu berada, disitu juga hatimu berada, bukan?” Bisakah kita tidak melupakan Tuhan ketika kita kaya? Bisakah kita tidak menjadi rakus ketika semakin kaya raya? Itu letak masalahnya!
Gandhi mengajarkan kepada kita 7 hal yang menghancurkan hidup kita, hidup para pemimpin. 1. Kaya tanpa karya. 2. Kerakusan tanpa kesadaran. 3. Pengetahuan tanpa karakter. 4. Komersial tanpa moralitas. 5. Pengetahuan tanpa humanitas. 6. Penyembahan tanpa pengorbanan. 7. Politik tanpa prinsip kebenaran. Ajakan Gandhi bagi kita para pemimpin masa kini masihlah relevan, ”Mari membangun manusia yang “besar didalam” (great inside) untuk menabur keteladanan. Jangan besarkan dirimu yang di sebelah luar.” Jika banyak manusia yang “lapar” akan kebesaran di dalam dirinya, maka akan semakin banyak “kebesaran” di dalam diri itu. Kebesaran di dalam diri itulah yang akan membentengi banyak persoalan pemimpin. Pemimpin menjadi tidak rakus tanpa karya. Mereka akan kaya kesadaran hati (”heart & conscience”). Pemimpin pandai tapi berkarakter. Berbisnis tapi yang bermoral. Pintar tapi tidak sombong, arogan dan tetap manusiawi. Pemimpin yang berlaku sebagai hamba, pemimpin sebagai pelayan. Jika berpolitik, tidak membuang prinsip kebenaran. Taqwa selalu dimulai dari dalam. Seperti yang sudah diteladankan oleh Arwin Rasyid eks Dirut Bank Danamon dan Teddy Rahmat eks Dirut Astra Group yang sama-sama telah mengandalkan kejujuran sejak di sekolah sampai ketika mereka memimpin perusahaannya masing-masing. Sudahlah kita tinggalkan saja 3-TA (harta, takhta, wanita) penyebab kehancuran pemimpin. Peluklah erat-erat nilai-nilai kebaikan diri (great values). Meski kita pensiun, nilai-nilai diri kita yang akan menemani kita selamanya. Nilai tak pernah pensiun.
Contoh lain, adalah Panglima Sudirman, yang seorang guru dan ustadz, kaya akan teladan. Dia berhasil menggerakkan anak buahnya dan para komandannya dalam memblokade Belanda dan Jepang dengan kesucian diri. Menarik untuk disimak sebuah kebesaran diri dari keraton Yogyakarta di Jawa. Tugas Sultan Yogya ialah yang terkandung dalam filosofinya: ”Hamemayu Hayuning Bawono.” Artinya: 1. Menjaga keseimbangan dunia ciptaan Tuhan. Maka tugas raja ialah mengantar rakyat secara spiritual untuk menuju Tuhan. Karena itu dalam filosofi Sultan Yogya, yang penting itu adalah rakyat, bukan Sultannya. 2. Orang-orang di sekeliling raja boleh memakai keris dengan sarung dari perak, emas dan bertatahkan batu permata. Tetapi Sultan hanya boleh memakai keris bersarung kayu! Ini menyatakan bahwa Sultan tidak boleh hanyut dalam keduniawian. Sultan haruslah selalu bersahaja. "Fokus dari pengabdian adalah orang lain dan fokus dari kejujuran adalah Tuhan"

Jumat, 2008 Juli 25

Leadership & Passion: Hidup tidaklah seperti doa-doa kita



"Prayer for Arthur": Ubahlah doa anda sekarang

While in the Philippines in 1944, after Arthur had gone to sleep as Gen. Mc Arthur looked down silently on the sleeping child, one night after supper he wrote...

Build me a son, O Lord, who will be strong enough to know when he is weak, and brave enough to face himself when he is afraid; one who will be proud and unbending in honest defeat, and humble and gentle in victory.

Build me a son whose wishes will not take the place of deeds; a son who will know Thee -- and that to know himself is the foundation stone of knowledge.

Lead him, I pray, not in the path of ease and comfort, but under the stress and spur of difficulties and challenge. Here let him learn to stand up in the storm; here let him learn compassion for those who fail.

Build me a son whose heart will be clear, whose goal will be high; a son who will master himself before he seeks to master other men; one who will reach into the future, yet never forget the past.

And after all these things are his, add, I pray, enough of a sense of humor, so that he may always be serious, yet never take himself too seriously. Give him humility, so that he may always remember the simplicity of true greatness, the open mind of true wisdom, and the weakness of true strength.

Then I, his father, will dare to whisper, "I have not lived in vain"

Source: By General Douglas Mc Arthur (1880-1964), from the book American Caesar,
By: William Manchester, Little, Brown & Co. Boston-Toronto

Doa untuk Arthur
(ada yang menterjemahkan menjadi: :Doa sang Jenderal")

Tuhanku...

Bentuklah putraku menjadi manusia yang cukup kuat untuk mengetahui
kelemahannya. Dan, berani menghadapi dirinya sendiri saat dalam
ketakutan. Manusia yang bangga dan tabah dalam kekalahan.
Tetap Jujur dan rendah hati dalam kemenangan.
Bentuklah putraku menjadi manusia yang berhasrat mewujudkan cita-
citanya dan tidak hanya tenggelam dalam angan-angannya saja.

Seorang putra yang sadar bahwa mengenal Engkau dan dirinya sendiri
adalah landasan segala ilmu pengetahuan.

Tuhanku...

Aku mohon, janganlah pimpin putraku di jalan yang mudah dan lunak.
Namun, tuntunlah dia di jalan yang penuh hambatan dan godaan, kesulitan dan tantangan.
Biarkan putraku belajar untuk tetap berdiri di tengah badai dan
senantiasa belajar untuk mengasihi mereka yang tidak berdaya
Ajarilah dia berhati tulus dan bercita-cita tinggi, sanggup memimpin
dirinya sendiri, sebelum mempunyai kesempatan untuk memimpin orang
lain.
Berikanlah hamba seorang putra yang mengerti makna tawa ceria tanpa
melupakan makna tangis duka.
Putra yang berhasrat untuk menggapai masa depan yang cerah namun tak pernah melupakan masa lampau.
Dan, setelah semua menjadi miliknya...Berikan dia cukup rasa humor sehingga ia dapat bersikap sungguh-sungguh namun tetap mampu menikmati hidupnya.

Tuhanku...

Berilah ia kerendahan hati... Agar ia ingat akan kesederhanaan dan keagungan yang hakiki pada sumber kearifan, kelemahlembutan, dan kekuatan yang sempurna.

Dan, pada akhirnya bila semua itu terwujud, hamba, ayahnya, dengan
berani berkata "hidupku tidaklah sia-sia"

Sumber:
Doa Douglas Mc Arthur dalam buku "American Caesar" oleh William Manchester ini tidak asing lagi bagi kita, karena doa yang sudah lama, dibuat pada zaman PD II. Dan sudah beredar di milis serta internet hingga hari ini. Tetapi, bukan soal lama atau barunya, tetapi soal makna kedalamannya yang akan di bahas karena tetap saja relevan bagi kehidupan saat ini setelah tidak ada perang dunia.
" Doa untuk Arthur" ada yang menterjemahkannya menjadi "berbeda" sekali yaitu “Doa Sang Jenderal” dan ada yang mengatakan yang menterjemahkannya adalah Andrie Wongso dan teamnya. Perhatikan, judul terjemahan ini, Doa Sang Jenderal, padahal naskah aslinya “Doa untuk Arthur”. doa untuk anak, bukan doa untuk sang ayah sendiri. Memang tidaklah salah, toh yang berdoa khan ayahnya. Tapi tujuan ia berdoa khan untuk anaknya, bukan untuk ayahnya sendiri. Doa sang jenderal, terkesan doa sang ayah bisa untuk dirinya, bisa untuk kesatuannya, bisa untuk negaranya, bisa saja untuk dunia. Manusia sesungguhnya cenderung senang menambah-nambahi (membesar-besarkan) dari pada mengurangi. Manusia senang kemasan sebelah luar, agar kelihatan keren, agar terasa gimana begitu kalau judulnya jadi “Doa Sang Jenderal” dari pada doa untuk Arthur sang anak. Orang senang dengan kedudukan tinggi, yang digambarkan dengan pemakaian kata Sang Jenderal. Padahal di doa aslinya tidak ada Doa Sang Jenderal. Anda belajar sesuatu dari sini?

"Ubahlah doa anda sekarang".
Terlepas dari cara terjemahannya, doa ini jelas mengajarkan kepada seorang anak tentang makna kedalaman hidup yaitu ”hidup harus diperjuangkan”. Ia mengajarkan tentang makna cinta kasih terhadap sesama dan terhadap Tuhan. Doa ini sebaliknya tidak mengajarkan sama sekali agar si anak menjadi kaya raya dan mendapatkan kemudahan. Tidak! Malahan sebaliknya, ia mengajarkan kesulitan hidup, tantangan badai, kerendahan hati, kesederhanaan dan keagungan. Itulah kebesaran sejati (”greatness”) dari manusia. Sang ayah juga mengajarkan sebuah makna keras terhadap diri sendiri, jangan lembek, jangan malas. Seperti kata mutiara yang tertulis "Kalau Anda lunak pada diri sendiri, kehidupan akan keras terhadap Anda. Namun, kalau Anda keras pada diri sendiri, maka kehidupan akan lunak terhadap Anda."

Karena hidup sering tidak mengikuti doa kita, bagaimana jika doa kita yang kita ubah agar sesuai dengan kehidupan? Nah, jika setuju, rasanya anak kita perlu diajari cara menghadapi kesulitan, agar anak kita tidak menjadi anak yang malas & lembek kelak karena di ninabobokan & dimanjakan oleh doa-doa kita yang selalu meminta segala "kemudahan" baginya. Melainkan mintalah "passion" (hasrat, keteguhan, kegigihan, keyakinan, hakekeke..) dalam segala waktu ketika ia menghadapi masalah, kesulitan dan tantangan hidup. Nampaknya doa yang semacam ini lebih "wise" dari pada doa kita selama ini. Memanglah sulit untuk awalnya, karena kita tidak terbiasa berdoa dengan sikap seperti ini.
Namun, dengan berlatih, segalanya menjadi mungkin untuk diubahkan.

Sabtu, 2008 Juli 19

Leadership & Passion: True leader starts on the inside


Leadership & Passion: "True leader starts on the inside”


Robert K. Greenleaf dalam Servant Leadershipnya th 1977, membuka mata pemimpin Amerika bahwa di dalam diri pemimpin ada 2 kualitas, yaitu kualitas didalam (”inner quality”, benteng pertahanan internal) dan kualitas diluar (mengasah otoritas dan pengaruh). Perubahan yang dibawa oleh pemimpin hendaknya masuk pada area ”inner quality” (sesuatu yang kecil ) ini.

Pernah ada perusahaan yang mendatangkan motivator terkenal dan konsultan “corporate culture” sudah bayar mahal sekali, hasilnya tidak nyata, tidak terasa di tahun depan. Lalu datang konsultan baru dan diteliti, ternyata mereka hanya memotivasi yang dari luar (hard motivation) kurang menyentuh ke dalam hati. Yang konsultan sebelumnya hanya berhenti memetakan system lalu membuatkan buku saku “corporate culture” plus 1-2 kali sosialisasi dan selesai. Intervensi yang relatif ”in-effektif”, perusahaan tetap salah kelola, inefisiensi dimana-mana, kinerjanya stagnan. Anda harus percaya ini, system bukan segalanya. ”Manusia yang menciptakan system, tapi karakter yang menciptakan manusia.” Oleh karena itu, sistem manajemen apapun yang dianut, biasanya tak jauh dari sistem dan cara pandang manusianya, bukan? Jika manusia yang membuat sistem, kurang pro efisiensi dan mutu, hanya pro hasil, otomatis ciptannya kurang lebih menggambarkan.

Kenneth Blancard juga mengatakan pentingnya menyentuh yang di dalam, “true leader starts on the inside with servant heart, then moves outward to serve others.”
Berikut ini beberapa fenomena dari sesuatu yang kecil namun memberi gambaran dari sesuatu yang lebih besar. "Ingat anak, ingat bapaknya."
Bagaimana caranya kita bisa tahu dengan cepat kualitas pemimpin di suatu bangsa? Kelihatannya sulit, tapi mudah. Cobalah mengingat pepatah bijak ini, ”Jika anda ingin tahu kondisi sebuah bangsa, lihatlah jalan rayanya.” Jika kacau balau lalu lintasnya, maka kacaulah juga kondisi di dalam bangsa itu. Cocok bukan dengan Indonesia? Lihatlah lalu lintas di jalan Jakarta, itulah gambaran Indonesia kita, bukan? Jalan raya adalah sesuatu yang kecil dari sesuatu yang lebih besar. Ia bagai belalai gajah. Jika anda memegang belalai gajah, meski mata anda ditutup, anda pasti tahu itu seekor gajah, karena gajah sudah menendang anda..hmm.. Jika lalu lintas kacau menandakan kebiasaan manusianya juga kacau. Itu berarti kebiasaan rakyatnya juga kacau. Jika kebiasaan rakyatnya kacau, maka itu cerminan dari pemimpinnya yang kacau. Cocok bukan? Kalau mau tahu presidennya, bergaulah dengan rakyatnya. Kalau mau tahu bapaknya, bertemanlah dengan anak-anaknya. Mereka saling berhubungan satu sama lain. Jika jalan rayanya lancar seperti di Australia misalnya, maka negaranya juga baik, bukan? Jika pantainya bagus, apakah negaranya bagus? Oh..benar juga, pantai Kuta, Sanur dan Nusa Dua bagus dan pulau Bali ternyata memang bagus, aman dan indah. Sayang sudah dirusak reputasinya oleh sekelompok tangan jahil teroris. Namun, kebenaran sudah terungkap. Perusaknya adalah para pendatang dari luar Bali (umumnya teroris dari tanah Jawa). Sudah umum di antara orang Bali, yang mencuri sesajen mereka atau mencuri sepeda motor milik mereka pada umumnya adalah para pendatang, yang umumnya dari Jawa (maaf, jangan orang Jawa jangan cepat tersinggung, ini fakta adanya). Coba datang dan tanya orang Bali, kalau mau percaya. Pelajaran dari cerita Bali ini adalah moralitas sekelompok orang ternyata bisa saja dipelihara, dijaga, dilindungi, dipertahankan (dhi. budaya Bali) meski diganggu, dicemari lebih tepatnya, oleh budaya dari kelompok lain. Mengapa budaya Bali demikian kuat tertanam sampai ke dalam? Fondasi terkuatnya karena spiritual mereka yang mengakar dan kepercayaan agama ”hukum karma” yang ditaati oleh semua tua dan muda dengan rasa takut dan hormat. Semakin tertanam ke dalam, semakin sulit tercabut, bukan? Jika anda senang dengan dimensi waktu, silahkan tambah sendiri dengan itu. Membina attitude dan character yang baik, jika dimulai sejak dini, sejak masa anak-anak. Tak heran, perusahaan keluarga yang dimotori dan dimanajemeni oleh kakek-kakek tua (diatas 50th) biasanya sudah sulit dirubah, bukan? Bisa, tetapi sulit dan membutuhkan kesabaran ekstra.

Lebih dalam lagi? Untuk mengetahui kedalaman karakter seseorang, lihatlah tempat privatenya, misalnya kamar mandinya atau dapurnya, atau kamar tidurnya. Jika dapurnya atau kamar mandinya ”jorok”, maka pribadinya kurang lebih juga jorok, Jika tempat privatenya bersih, maka pribadinya juga bersih. Jika meja kerjanya berantakan, corak warna si pemilik meja, bisa diantara 2, terlalu kreatif (otak kanan) atau hidupnya benar-benar sedang berantakan (keluarganya kacau, karirnya tidak jelas, misalnya). Jika teamnya kacau, target tidak tercapai, losses & waste tinggi maka itulah gambaran pemimpinnya. Kurang lebih begitu, bukan? Semoga anda tidak tersinggung. Jika anda kurang puas, anda bisa menambahkan itu dengan buruknya sistem, jika anda senang dengan sistem. Cobalah mendalami perusahaan yang targetnya sering tidak tercapai, losses & waste tinggi, motivasi pekerjanya rendah, anda akan belajar lagi bahwa bukan sistem yang jadi penyebabnya.
Sederhananya, true leader starts on the inside. Mulailah dari dalam diri sendiri dengan sesuatu yang benar.

Selamat "surfing" di lautan diri.

Rabu, 2008 Juli 16

Leadership & Passion: Silence is the Leader's strength





Leadership & Passion: ”Silence is the leader’s strength”

Salam mulia,
Bagaimana memperkuat hati di dalam? Ada trainer bertanya, “bagaimana mengelola kalbu?” Bagaimana menemukan cinta? Jawaban langsungnya ternyata dengan “silent” (adjective: berdiam diri) ungkap Mother Theresa yang telah mengerti banyak tentang makna hidup.. Hening, berdiam diri adalah jalan menuju ke doa. Doa jalan menuju kepada iman. Iman jalan menuju cinta. Cinta adalah jalan menuju pelayanan. Pelayanan jalan menuju kedamaian. Dan cinta adalah kekuatan hakiki nan abadi. Cinta itu kemudian melahirkan kebahagiaan hati, merasa damai. Berdiam diri bagi pemimpin adalah kekuatan. ”Tengoklah kedalam” potongan syair Ebiet G. Ade tsb. cocok menggambarkan, ada kekayaan yang sudah lama kita tinggalkan. Dengan menengok kedalam, terang hati akan memancar dengan hebat, semakin keras dan semakin terang. Begitu ”terangnya” terpancar, gairah cinta itu akan menjalar ke seluruh pikiran dan rasa. Begitu pikiran dan rasa tersentuh, seluruh tubuh tergerak. Ia akan menggerakkan moralitas dan karakter. Hanya berhenti sampai membicarakan tentang kejujuran di ruang meeting menjadi pilihan yang buruk. Menjadi jujur, itulah upah dari terang. Ketika terang hati menjelma menjadi sebuah kekayaan moral, orang di sekitar akan melihat terang itu, mereka dapat merasakannya. Mengapa? Mereka melihat ”walk the talk” berjalan di hidup anda. Anda kini telah melakukan apa yang sering anda bicarakan, yaitu kejujuran. Apa yang akan terjadi jika anda berubah? Inilah ekspresi-ekspresi awal dari orang terdekat anda, ”Tumben, jujur banget bos kita..? Gak salah nih bos..? Serius bos? Besok lagi ya bos..he..he..!” Terang itu begitu kasat mata. Pemimpin yang baik, akan nampak oleh anak-anak buahnya. Pemimpin yang jahat juga lebih kelihatan. Keheningan menyelamatkan kita.

Bukan moral & pikiran saja yang dibebaskan, tubuh juga dimerdekakan dari perbudakan kegelapan. Tubuh juga siap melakukan perubahan-perubahan. Tubuh akan kini ikhlas untuk menderita dan menerima ketidaknikmatan. Yang tersulit dari perubahan itu adalah mengajari tubuh. Ia maunya nikmat terus, senang terus, enak terus, kenyang terus. Gairah terang hati yang kini telah menjalari tubuh jasmani itulah, yang akan menutupi sensor-sensor kesenangan dan kenikmatan. Sensornya diganti. Sensor derita dan pengorbanan kini menguasai tubuh. Jika tubuh sudah dalam kendali sensor baru ini, kesakitan, kelaparan, deraan, pukulan bahkan pancungan kepala tidak akan ditakuti lagi oleh tubuh. Jika dalam bertinju, otak akan mengeluarkan sensasinya. Dengan keagungan Tuhan, sang otak yang mengendalikan tubuh kita, mengeluarkan hormon endorphin. Tubuh petinju tak akan terasa sakit di-uppercut oleh lawan, juga di berondong jab juga tahan. Tulang rusuk yang patah tak terasakan. Itulah sensasi sensor otak yang sudah diubahkan. Tubuh sudah dikendalikan oleh sensasi otak. Otak mengambil alih fungsi tubuh. Tubuh tinggallah hanya tulang, daging, kulit dan selulit. Tubuh merasakan derita tetapi tidak sedahsyat sebelumnya. Itulah mengapa Panglima Sudirman mampu bertahan gerilya keluar masuk hutan gelap dengan derita sakit paru-parunya yang gawat dan dahsyat ketika itu. Tubuhnya tidak lagi merasakan sakit. Masuklah kedalam, anda akan menemukan kekuatan hati. Kekuatan diri. Orang menyebutnya work with passion.

Mahatma Gandhi mampu bertahan dalam siksaan fisik berupa tendangan sepatu lancip sipir penjara serta sering puasa tanpa makan sepanjang hidupnya. Sampai akhirnya, ia menyaksikan dengan mata kepalanya sendiri, dirinya ditembak oleh warganya sendiri. Jika hari ini anda merasa tertekan & malu karena belum bisa naik mobil BMW ke kantor padahal anda seorang direktur, itu masih belum apa-apa dibandingkan derita tubuh sepanjang hidup Panglima Sudirman dan Mahatma Gandhi. Hanya jika terang hati menguasai tubuh dan rasa, maka segala derita menjadi seperti ke titik zero. Masih ingat orang pajak yang ke kantor naik motor, meski sesungguhnya ia bisa menerima suap sebuah BMW baru. Ingat kepala sekolah SMA yang menyapu sekolahnya setiap hari meski ia bisa memberi perintah saja kepada tukang sapu sekolah. Ingat seorang janda yang jualan pisang goreng keliling berjalan kaki hingga sakit asma berat hanya karena tanggung-jawabnya untuk menyekolahkan anaknya sampai lulus di UGM. Ingatkah perjuangan keras Andrie Wongso dari Malang, yang tidak pernah lulus SD, harus berjualan kue yang dibuat ibunya sendiri, selagi teman-temannya pergi ke sekolah.

Kahlil Gibran dan Jallaludin Rumi adalah tokoh-tokoh lainnya diluar sana yang berhasil menempatkan semua kejadian hidup sebagai berkah. Tidak ada masalah, apalagi musibah. Setiap hari adalah hadiah, miskin maupun kaya, sakit ataupun sehat, rugi ataupun untung, tua ataupun mati. Mereka menjalani hidup dengan berjalan diatas pikiran mereka. Pikiran tidak mendikte dan mencengkeram mereka. Ego lenyap. Yang ada hanyalah syukur karena segala sesuatu dalam hidup jadi hadiah. Jika hari ini hidup anda tidak dikuasai oleh keserakahan, maka kebesaran hati sudah menjadi milik anda. Penuturan Peter F. Drucker: “Kita hidup di era peluang yang tak terduga, kesempatan begitu banyak. Jika memiliki ambisi, cerdik dan jujur, anda akan dapat menaiki puncak profesi pilihan anda, tanpa memandang dari mana anda memulai. Tokoh besar lainnya seperti Napoleon, Da Vinci, Mozart, dan seniman besar lainnya, dapat kita teladani dalam mengelola diri sendiri yang diwujudkan dalam karya. [Classic Drucker, 2007]. Keberhasilan mengelola diri sendiri dan karya akan membawa semua pribadi berhasil, termasuk anda. Masuklah kedalam, anda akan menemukan kekuatan hati.