Dua (2) tools ini sama-sama penting dalam mendukung kepemimpinan. Pemimpin tanpa coaching dan counselling terasa hambar dan kering, miskin dan tak beraroma. Coaching dianggap sebagai sabun pembersih dan counselling dianggap sebagai pewanginya.
Ada satu perusahaan yang memakainya bersama-sama dalam satu kegiatan (disingkat C and C or C&C). Perusahaan lainnya memakai coaching sebagai bagian penting dari KPI dan menganggapnya lebih berpengaruh terhadap perbaikan kinerja dari pada training. Training dikurangi, coaching ditambah.
Perusahaan lainnya, mewajibkan setiap pemimpin melakukan coaching on regular basis (1x per anggota team per bulan). Dan ukuran kenaikan gajinya (salary adjustment) didasarakan pada seberapa berhasil pemimpin tsb. menjalankan coaching secara produktif dan motivating. Dua (2) ukuran sering dipakai yaitu: frekuensi (quantity) dan kinerja (quality) yang sering digunakan dalam mengukur keberhasilan proses coaching.
Banyak manager dan GM yang dianggap sukses setelah mereka sukses melakukan coaching dan counselling secara teratur kepada teamnya. Teamnya menjadi "ter-upgrade" naik kelas, teamnya menemukan "hidden potential-nya" , teamnya merasa diutamakan dan dianggap penting, teamnya merasa mendapatkan "regular" feedback, teamnya cepat "berkembang" menjadi pemimpin baru (successfull succession), dan yang lebih penting organisasi cepat menemukan pemimpin-pemimpin baru (young tiger in the jungle).
Apa bedanya coaching dan counselling dan kapan menggunakannya?
Counselling selalu dimulai oleh (berangkat dari) masalah ("bau badan"), sedangkan coaching tidak. Counselling dimulai dari masalah pribadi yang mempengaruhi pekerjaan, coaching tidak.
Sehingga counselling tepat ditangani dengan skill sebagai counsellor. Solusi atas masalah biasanya ditemukan berdua antara client (team yang bermasalah) dengan pemimpin yang menempatakan dirinya sebagai counsellor. Counsellor harus lebih banyak mendengar dari pada berbicara (listen more, talk less) dan "client centered". Frekuensi pertemuan tidak dapat diatur di depan sebelumnya, amat bergantung kepada timbulnya masalah yang tidak dapat diduga sebelumnya. Misalnya: masalah kedisiplinan, masalah tanggung jawab (tledor), masalah keluarga dst. Counselling bisa juga dipakai untuk prevention masalah.
Ujung dari counselling adalah selesainya masalah pribadi (attitude & character) dan tidak lagi menyebabkan turunnya kinerja. Dalam beberapa kasus, justru meningkatkan kinerja anggota team ybs. karena ia telah berhasil menyelesaikan masalah pribadinya (menutup bau tak sedap lalu menambah PD).
Sebaliknya coaching berangkat dari adanya potensi di dalam diri setiap anggota team (lebih positif kesannya). Coachee (anggota team yang memiliki potensi diri) harus lebih aktif menemukan dan menggali potensi dirinya sendiri, setelah di-inspirasi atau di-direct dan diberi feed-back oleh coach (pemimpinnya). Coachee-lah yang paling "tahu" dan "mengenal" what is inside dan what is desired. Coachee-lah yang lebih mengenal dirinya sendiri dari pada pemimpinnya (strength dan weaknessnya) .
Sehingga, solusi pengembangan dirinya lebih banyak ditemukan sendiri oleh coachee dengan bantuan, kesabaran dan ketekunan seorang coach. Komitmen coachee-lah yang menyelamatkan dirinya dari kemandekan karirnya (stagnansi pertumbuhan) . Coach sebagai katalisator dan fasilitator.
Coaching sama dengan counsellor harus lebih banyak mendengar dari pada berbicara (listen more, talk less) dan "coachee centered". Ujung dari coaching adalah perubahan dan perkembangan kemampuan (capacity) anggota team. Sehingga ukuran coaching adalah selalu result (hasil/ kinerja), bukan sekedar kesepakatan "action plan". Itulah mengapa hanya coaching yang sering dikaitkan dengan performance indicator (KPI).
Sering keduanya dilakukan bersamaan, tak bisa dipisah-pisahkan, tak semudah memotong apel untuk membedakannya. It is not clear-cut. Mengapa demikian? Karena biasanya, pemimpin baru mau menyediakan waktu dan mengajak berbicara anggota teamnya setelah ada "masalah". Jika tak ada masalah, pemimpin cenderung diam, tak peduli dan asyik sendiri dengan dunianya. Masalah yang tadinya kecil, menjadi terkubur dan meledak setelah cukup besar. Jadilah pemimpin menjadi pemadam kebakaran (counsellor bagi pesakitan). Pada saat itulah, pemimpin lalu melakukan coaching. Sehingga kenapa ada perusahaan tertentu yang menggunakan 2 senjata coaching dan counselling secara bersamaan (karena problem-based coaching). Seperti kebiasaan banyak orang, lebih senang memakai pewangi tubuh, padahal yang dibutuhkan adalah mandi yang bersih.
Dengan "regular" coaching dan counselling, team kita menjadi lebih bersih dan lebih wangi.














