.jpg)
Time to build our leadership
Di ujung sebuah hutan tropis yang dalam, di desa Damai terdapat seorang guru eksekutif bernama Manu yang hidupnya amat sederhana. Usianya sudah lanjut 80 tahun. Ia tinggal bersama cucunya bernama Savio.
Pagi itu Pak Manu berbaju warna putih, mengadakan ujian akhir kelulusan pelatihan kepemimpinan bagi para muridnya yang sudah di kelas advanced. Guru Manu duduk tenang sambil bersila di rumput halaman rumah bambunya yang asri. Sepuluh muridnya juga duduk bersila mengelilingi sang guru.
Sambil memegangi sebuah sapu kecil dan bibit tanaman cheri ("kersen") ia mulai memberikan pertanyaan-pertanya an refleksi kepada murid-muridnya dengan sangat tenang. Savio, cucunya berada di sebelahnya.
Siapakah yang menjadi bos kita yang sebenarnya? Siapakah yang menjadi tuan dari hidup kita yang sebenarnya? Dari mana kekuasaan itu diperoleh? Dimana letak berharganya pikiran pemimpin dibandingkan hati pemimpin?
Apakah yang dapat menjadikan hidup kita manis penuh makna?
Apakah yang membuat kita layak disebut pejuang sejati?
Apakah yang menjadikan hidup kita sempurna dan penuh?
Semua murid-muridnya merasa tercenung, karena pertanyaan sang guru Manu demikian mendasar dan tajam. Namun murid-muridnya yang sudah matang, rata-rata dewasa, tak mudah menyerah. Mereka tunduk khidmat sebentar lalu menjawab. Seorang murid bernama Ben maju kedepan dengan self-confidence tinggi, memberi hormat kepada gurunya dan mulai memberi jawaban.
"Baiklah guru saya mencoba menjawab pertanyaan guru yang sangat mendasar itu. Berdasarkan pengalaman hidup kepemimpinan saya di perusahaan multi national dimana saya sudah memimpin sebuah divisi operation sebagai Director of Operation, selama 5 tahun, pertanyaan guru sangatlah dalam. Namun, pekerjaan saya itu telah memberikan kepuasan besar bagi hidup dan karir saya. Saya memulai karir ini, dari bawah sebagai customer service officer (CSO) di kota kecil, hingga menjadi direksi."
"Setelah saya menjalani masa-masa sulit krisis berat di perusahaan saya, barulah saya sadari bahwa ada 2 nilai kepemimpinan yang menguatkan dan meneguhkan hati saya selama ini sehingga saya dapat terus bertahan di jabatan ini."
"Pertama, "humility" dan kedua, "passion". Semua terdiam sambil menikmati kesejukan angin pagi. Ben melanjutkan ceritanya. "Humility, kerendahan hati telah membuat kata-kata saya diikuti oleh anak buah saya. Dan passion ketegaran hati memampukan saya meraih target-target perusahaan."
"Namun untuk menunjukkan ke-2 value itu nyata di dalam tindakan saya, saya berlatih sangat keras untuk mengendalikan diri, maksud saya menaklukkan diri saya setiap hari, selama 365 hari dalam setahun. Kadang gagal, kadang berhasil. Puasa jasmani dan batin telah saya jalani selama 30 hari penuh setiap tahun. Rasanya nikmat bisa sehari berjalan di jalan Tuhan..Bagai 1000 bulan..! Namun, semuanya itu sulit dan berat. Menaklukkan diri sendiri, beratnya bukan main. Meski sudah berpuasa 30 hari, rasanya kurang..!"
"Tersulit adalah membersihkan kotoran hati setiap saat. Menahan amarah dan emosi karena tersinggung dan terhina oleh orang lain. Menahan nafsu dunia, ingin memiliki segalanya. Tersulit kedua adalah menjaga diri jangan sampai meninggikan hati. Sombong, ego, arogan adalah kerikil tajam yang selalu mengganjal kaki saya. Jika terinjak, sakit rasanya dan membuat saya tersadar..! Saya telah belajar merendahkan hati dan menegarkan hati untuk memimpin diri saya dan anak buah saya, namun belum sempurna, belum penuh rasanya.." sambil ia sesekali tersenyum kepada murid lainnya.
" Bla..bla..bla" panjang lebar cerita Ben dengan penuh antusias ia menjawab pertanyaan gurunya. Begitu jelas dan fasih ia berargumentasi. Teori manajemen diri, ESQ, Kaizen, Etos Kerja dan wisdom of business telah ia peragakan di depan sidang pagi itu. Ia sangat meyakinkan sidang ujian pagi itu. Semua nampak "impressed".
Sang guru Manu terus saja mendengarkan jawaban Ben tanpa menyela. Setelah Ben berhenti bicara, guru Manu mulai membuka mulutnya yang terkatup.
"Kapan terakhir kali engkau marah besar?" dan
"Kapan terakhir kali engkau ingin menjadi kaya raya sekaya-kayanya? "
Ben terdiam dan menjawab dengan berat hati: "..jujur guru, semalam saya baru marah besar kepada istri saya karena ia keterlaluan. Dan hampir saja saya mengeluarkan kata-kata kasar. Maksud saya, kata-kata cerai. Saya sangat kecewa berat dan sakit hati.!! Semalaman saya menyendiri di teras rumah dan tidak bisa tidur. Tadi pagi dalam perjalanan kemari, dengan driver saya, saya berpapasan dengan banyak mobil-mobil mewah di jalan pegunungan ini, lalu hati saya terdorong hebat untuk mengingininya. Jujur guru, saya ingin mengkoleksi mobil-mobil mewah tsb sebanyak yang saya bisa dan sehebat yang saya mampu. Saya ingin dianggap kolektor mobil mewah terkenal di kota saya. Entah, apa yang mendorongku, perasaanku saat ini, saya benar-benar merindukannya. Saya merasa terhormat dan terpandang jika berhasil meraih predikat orang terkenal di bidang koleksi mobil mewah itu, guru..! Saya telah bekerja sangat keras, untuk mewujudkan impian saya itu. Sampai hari ini, saya baru memiliki 7 mobil mewah..! Istriku sesungguhnya tidak kekurangan apapun. Nafkah sudah saya cukupi. Ia memiliki mobil mewah pertama kami, Toyota Alphard hitam. Kedua anak saya sudah di SMA terkenal di Jakarta. Entah mengapa, istri saya toh tetap tidak merasa bahagia di rumah. Zakat dan sedekah telah saya penuhi. Apa saran guru kepadaku..?" ganti Ben bertanya kepada gurunya minta nasehat. Tatapan dan mata Ben nampak kemerahan. Ia sedikit terhenti.
Lalu guru Manu perlahan mengangkat sapu kecilnya dan memberi contoh menyapu halaman rumahnya. Ia menyapu sampah-sampah dedaunan kering dari satu sudut ke sudut lainnya, seolah sudah terbiasa melakukannya setiap hari. Setelah berhenti menyapu, ia ambil bibit tanaman cheri kecil itu dan ditanamnya di pinggir halaman. Ia dibantu Savio cucunya. Semua muridnya memandanginya dengan penuh perhatian. Setelah selesai menanam cheri itu, iapun menghampiri Ben. Dipegangnya bahu Ben dan dari mulut sang guru ia berbisik pelan ke telinga Ben:
"Sapulah dan bersihkan apa yang harus engkau bersihkan. Tinggikan tanaman jiwamu sampai setinggi-tingginya bagai pohon cheri itu. Berlatihlah setiap hari. Lakukanlah sepulang dari sini. Maka engkau akan kaya kerendahan hati dan berlimpah dengan ketegaran hati..Nilai- nilai mulia itulah yang akan menjagamu tetap bahagia di rumah dan di kantor..!" Ben tersenyum mengerti dan memberi hormat kepada sang guru. Murid lainnya hanya bisa menerka-nerka, apa yang disampaikan sang guru ke telinga Ben. Waktunya begitu pendek dan lirih suaranya.
Lalu sang guru Manu duduk kembali, dan mengajukan pertanyaan-pertanya an lainnya kepada ke 9 murid-muridnya yang lain. Demikian ia mengulas ajarannya dengan kesederhanaan, keteladanan, keteduhan dan ketinggian jiwa, tanpa penghakiman apapun.
Di akhir sesi ujian pagi itu, para muridnya menunggu-nunggu dengan cemas, nilai berapakah yang bakal mereka terima dari sang guru?Lulus atau tidak?
Menurut Anda, apakah Ben, sang direktur operation, telah lulus ujian? Mengapa?













