Senin, 22 September 2008

Sukiman Mengetuk Pintu.. (Komunitas RUBI)








"You are richer today if you have laughed, given or forgiven.." (Anda menjadi lebih kaya hari ini kalau anda sudah tertawa, sudah memberikan sesuatu ataupun mengampuni seseorang hari ini)


Hari senin sore, 22 September 2008 pas tidak ada training, saya dan mas Anton Karya mewakili teman-teman Komunitas RUBI (Rumah Berbagi Indonesia) datang berkunjung ke sebuah rumah di RT 01/05 no 61, kel Ratu Jaya, Kec Pancoran Mas Depok. Mbak Ietje dan mbak Ellies Sutrisna, sponsor utama, tidak ada kabar khusus. Pak Rusman dan mbak Ratna (ahli wirausaha) sudah ada acara bukber. Mbak Lies Profec tidak bisa hadir.

Tidak ada sambutan khusus,ketika kami sampai di depan rumah, lalu kami diam-diam mengetuk pintu rumah dari triplek dan tembok bataco. Seorang Ibu separuh baya, kurus, ibu Sukiman (dipanggil ibu Asiah), nampak kurang sehat menemui dan mempersilahkan kami masuk. Sebelum masuk, kami ambil foto di depan rumah, begitu masuk juga 2 jepretan dokumentasi di ruang tamu yang atapnya bocor besar ketika hujan.

Pak Sukiman, pak Enjuk panggilan tetangganya, pemimpin & sekaligus pemilik rumah ini sedang bekerja sebagai tukang parkir di jalan Kartini (tidak berada di rumah). Anaknya hanya seorang saja, Adri, laki, kelas II SMK di Depok juga menemani kami berbincang-bincang. Dari hasil survey ini, kami mengetahui bahwa ketika malam, mereka tidur di lantai beralaskan kasur gulung di depan ruang makan. Kamar mandi mereka persis bersebelahan dengan dapur yang sempit, tempat untuk memasak Ibu Asiah sehari-hari. Dengan penghasilan utama pak Sukiman, pemimpin keluarga, sebagai tukang pakir (rata-rata income Rp 10.000-15.000/hari), pak Sukiman harus menanggung istri yang jantungnya ada gangguan dan biaya sekolah Adri. Kehidupan mereka jauh dari layak, sangat miskin (dibawah UMP, dibawah garis kemiskinan). Listrik minta tetangga sebelah. Air bersih minta tetangga depan rumah, yang harus diangkat pakai ember untuk keperluan sehari-hari. Tadi ketika buka puasa, adik ibu Asiah yang mengirimi makan untuk buka puasa karena tidak ada makanan. Itulah cerminan dari kehidupan rakyat kecil yang ada di sekitar kita. Kehidupan seorang pemimpin keluarga yang berwirausaha sebagai tukang parkir di Depok. Syukur, meski miskin menjerat, mata hati tidak gelap, mereka hidup sangat sederhana apa adanya, dari segala rejeki harian yang didapat dan uluran kebaikan para tetangga yang sedikit lebih mampu (mereka tidak mencuri/merampok). Nampak sekali, kehidupan yang saling tolong-menolong satu sama lain antar tetangga (solidaritas sosial nampak hidup).

Dengan situasi yang serba kekurangan, yang dirumahnya tidak punya WC, mereka harus lari ke kali jika akan BAB, pak Sukiman memberanikan diri datang ke sekretariat Komunitas RUBI awal bulan September untuk minta bantuan dana pendidikan anaknya. Pak Sukiman dengan lugunya menceritakan bagaimana ia sedang terpuruk secara ekonomi dan perlu bantuan segera. Ia berusaha "mengetuk" pintu amal dari Komunitas RUBI. Awalnya, pak Sukiman melihat spanduk RUBI di balai RW 28 Pesona Khayangan yang kami pasang. Ia beranikan diri (nekat, ia bilang) mencari alamat RUBI dan menemukan. Ia datang mengetuk 3x ke sekretariat RUBI. Tercatat ia datang ke sekretariat RUBI sebanyak 4x per hari ini (termasuk sore tadi ia juga datang lagi). Ia rajin mengetuk pintu. Mereka sudah menunggak pembayaran uang sekolah berbulan-bulan. Yang harus dibayar adalah Rp 210.000. Hari ini, kami telah menyerahkan bantuan "ikan" sebesar Rp 210.000 diterima oleh Ibu Asiah disaksikan Adri, anaknya. Dengan sangat senang dan girang, ia berulang-ulang bersyukur kepada Tuhan ketika menerima bantuan.

Agar "kail" dimiliki oleh keluarga Sukiman, kami sudah menghitung kebutuhan modal untuk "dagang makanan" di depan rumah mereka. Ibu Asiah sesungguhnya dulu sudah pernah berdagang makanan di sekolah SD inpres, tetapi modal habis untuk berobat ke puskesmas karena sakitnya. Ia kini dengan tenaga yang masih tersisa dan cukup kuat, sangat ingin berdagang lagi. Dagangan yang rencananya akan ia jajakan: nasi uduk, mie bihun goreng, bakwan, tempe goreng, mie gaul dst, yang semuanya bisa dibuatnya di dapurnya sendiri. Ia mengetuk hati kami untuk meminjamkan modal. Setelah kami hitung, ternyata modal makanan Rp 150.000, membuat meja sederhana untuk berjualan Rp 75.000, membeli plastik terpal agar jika hujan tidak tempias/basah kuyup, maka total modal diperkirakan Rp 300.000. Ibu Asiah bertekad akan mulai berdagang lagi, dan ia yakin akan laku, setelah lebaran nanti. Kamipun pamit dan menjanjikan akan membantu modal usaha ("kail") agar keluarga ini mandiri, dengan program cicilan Rp 1.000/hari dengan cara ditabung harian. Dana yang tidak seberapa ini akan dijadikan "revolving" fund (diputar) ke keluarga miskin lainnya di sekitar rumah pak Sukiman yang benar-benar perlu bantuan. Pak Sukiman akan jadi keluarga pertama penerima bantuan modal usaha dari Komunitas RUBI karena kegigihannya mengetuk pintu.

Soal MCK yang layak, saya dan mas Anton sudah menghitung secara kasar saja, dibutuhkan +/- Rp 750.000 untuk membiayai membuat WC jongkok yang layak untuk keluarga ini. Dana untuk ini akan digali dari sponsorship Komunitas RUBI (Rumah Berbagi Indonesia).

Pelajaran berharga yang dapat dipetik dari usaha keras pak Sukiman tsb. adalah, "jika kita rajin mengetuk, maka pintu akan dibukakan.."