
Life reading 30: Pemimpin Spiritual Berkarakter Ke-Tuhan-an
"Yang terpenting bukan lagi bagaimana kita memulainya, melainkan bagaimana kita mengakhirinya.."
"Tutut berduka yang mendalam atas berpulangnya Pak Harto, the smiling general."
Hari ini Pak Harto wafat, minggu 27 Jan 2008 dengan derita sakit lemah organ di RS Pertamina Pusat, Jakarta Selatan, di kawasan mayestik. Cendana berduka, Indonesia berkabung, bersedih, doa dilantunkan dari segala penjuru dunia. Seorang pemimpin telah mengakhiri pertandingannya. Lebih tepatnya diakhiri. Beliau akan beristirahat di Astana Giri Bangun, Karanganyar, Jawa Tengah. Pertanyaan yang masih tersisa adalah, apakah beliau telah mengakhirinya dengan baik?
Apa itu berkarakter Ke-Tuhan-an? Pertanyaan ini enak dijawab jika kita "sadar" betul, kemana kita akan menuju pada akhirnya? Konsep ini menjadi semakin urgent karena semakin banyak pemimpin yang "gagal" pada masa akhirnya. Ada yang jatuh karena dikerubutin 1000 wanita, istri, selir, gundik. Ada yang menjual Tuhannya demi harta. Ada yang katanya "ulama" tetapi membagi cinta ke banyak wanita dan terperosok.
Ada yang berjaya dimasa awal jabatannya, lalu berakhir di penjara. Ada yang sukses di awal karirnya dan hancur berkeping di ujung yang satunya. Ada yang anak-anaknya terperangkap dalam dunia narkoba dan judi.
Mengapa semakin banyak yang gagal di masa akhirnya?
Salah satu jawabannya adalah banyak pemimpin "tidak" bertaut terus-menerus di pokok anggur kehidupan. Terus-menerus menjadi penting, karena jika kepemimpinan bolong ditengah, mempengaruhi bolong di ujung. Konsistensi? Passion? Endurance? Ya, semua kualitas "terus-menerus", konsistensi, senantiasa dekat kepada Tuhan, inilah kuncinya. Yang gagal, tidak mampu keep the relation on, kadang baik, kadang buruk. Kadang dekat, kadang jauh. Kadang menyenangkan, kadang menyakiti. Kadang ingat, kadang lupa. Kadang berdoa, kadang tidak.
Pelajaran Pertama
Mengapa yang lain bisa berhasil sampai akhirnya?
Pemimpin seperti Panglima Soedirman, Mahatma Gandhi, Munir adalah karakter yang bisa berhasil dari awalnya, ditengahnya dan diakhirnya. Sejarah membuktikan, mereka tidak meninggalkan cacat ke-Tuhan-an. Tidak cacat? Hidup mereka secara pribadi dicatat bersih, damai dan mantap. Hidup mereka jernih, transparan, tidak bertopeng. Apa yang mereka pikirkan, mereka katakan, mereka lakukan semuanya sama, identik. Itulah sukses karakter. Mereka terbukti bisa sukses sampai di garis finish. Mereka sukses sebagai pemimpin.
Apa kuncinya? Mereka berhasil mengelola godaan. Godaan terberatnya adalah dunia, adalah diri mereka sendiri. Apa itu? Harta, takhta dan wanita. Siapa yang tidak akan tergiur dengan godaan 3-Ta itu? Karakter sukses, karakter bersih. Harta licin menggelincirkan iman. Takhta licik, menjerumuskan sikap. Wanita cerdik, menjatuhkan hati. Berhasil, ya mereka berhasil tidak mengikatkan diri mereka ke:
1. pemilikan harta,
2. pengejaran takhta,
3. pendustaan wanita.
Lihatlah karakter kaya itu. Mereka sudah merasa memiliki semuanya itu [abundant]. Sehingga godaan kepemilikan TIDAK mempan lagi. Mereka telah berjuang mengendalikan dirinya. Itu rupanya keberhasilannya.
Lalu, dimana letak spiritualnya? Ke-Tuhan-annya? Sederhana, ternyata mereka sangat mengutamakan Tuhan diatas segala-galanya. Hidupnya, impiannya, pelayanannya, amanahnya, misinya, perjuangannya, pengorbanannya dibalut oleh rasa CINTA yang menggebu-gebu kepada Tuhan. Tuhanlah sumber orbit mereka. Jika mereka harus mengalir, mereka menuju lautan cinta Sang Maha Agung Mulia. Ditengah derita perjuangannya, ditengah dera himpitan dan mara bahaya, telah terbukti meyakinkan sekali Pak Dirman, Mahatma Gandhi, Munir melakukan sembahyang. Mereka berdoa, bersaat teduh, berhening, menyendiri mengambil waktu berhubungan secara pribadi dengan pribadi bersama Tuhan. Kekuatan mereka adalah kekuatan dan pertolongan Tuhan. Mereka bersandar penuh kepada penyertaan dan perlindunganNya. Jika mereka "harus" mengajari lawan-lawannya, mereka berangkat dari kebersihan nuraninya. Pak Dirman tidak akan menembak, jika tidak ditembak. Mahatma Gandhi membalas kekerasan dengan kelembutan dan cinta kasih [Satya graha]. Munir tidak akan terusik jika tidak diusik rasa keadilannya. Mereka terus berjuang, dari hari demi hari untuk mengalahkan diri mereka sendiri. Mereka bukan jenis pemimpin buas, sadis, kejam, otoriter, semena-mena dan ganas. Karakter mereka berlawanan dengan semua itu, mirip karakter Tuhan. Mereka tidak mengejar kesenangan daging, kesenangan dunia, bahkan sengaja menjauhinya. Mereka siaga setiap saat dalam perjalanan yang panjang.
Pelajaran Kedua
Ternyata baik Pak Dirman, Mahatma Gandhi, Munir, Pak Harto semuanya harus berhenti ditengah jalan, meski tugas belum selesai. Selalu saja, perjalanan pemimpin terhenti di tengah jalan. Tugas belum tuntas. Selalu mereka menyisakan tugas-tugas yang belum terselesaikan. Perjalanan mereka kemudian diteruskan oleh penerusnya, estafet kepemimpinan. Usia yang membatasi. Masa yang membatasi. Itulah perjalanan yang panjang. Apa artinya bagi kita? Pertama, "memimpin ada batas waktunya, jangan memaksakan kehendak". Kedua, "jangan pernah bermimpi dapat menyelesaikan semua tugas-tugas kita, berikan sebagian tugas-tugas itu kepada penerus kita untuk melanjutkannya." Menarik, ternyata pemimpin spiritual tidak selalu siap mempersiapkan penerusnya. Pak Dirman belum sempat, Mahatma Gandhi belum sempat, Munir apalagi mendadak sekali, Pak Harto belum sempat. Satu-satunya yang menonjol dari mereka adalah mereka rata-rata telah mempersiapkan mau dimakamkan dimana? dengan cara apa? Menarik bukan?

0 komentar:
Poskan Komentar